Bernardo Silva masuk menggantikan Vitinha saat Portugal menang 2-1 atas Kroasia pada babak 16 besar. Silva mungkin bisa bercerita tentang sulitnya bakat hebat berkembang di Selecao. Mantan gelandang Monaco dan Manchester City itu telah membela tim nasional selama sepuluh tahun. Namun dia tidak pernah diberi peran sebagai pemimpin utama di lapangan. Vitinha kini menghadapi situasi serupa di Piala Dunia. Gaya bermain Portugal masih sangat bergantung pada Cristiano Ronaldo.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Pelatih Roberto Martinez sempat membahas masalah ini sebelum laga fase grup melawan Kolombia yang berakhir 0-0. Menurut Martinez, Vitinha belum masuk skuad saat dia mulai menjabat pada Januari 2023. Perkembangan sang pemain muda sangat memukau. Namun waktu latihan di tim nasional sangat terbatas. Mereka hanya memiliki dua atau tiga sesi latihan sebelum bertanding. Mengubah gaya bermain tim menjadi hal yang sangat sulit dilakukan.
Berdasarkan data pertandingan, Portugal memiliki banyak talenta hebat di lini tengah. Martinez menyebut nama Vitinha, Joao Neves, Bruno Fernandes, dan Bernardo Silva sebagai para pemain terbaik dunia di posisi mereka. Karakter bermain mereka sangat berbeda. Tantangan terbesar bagi pelatih adalah menemukan formula yang tepat untuk menyatukan mereka dalam satu tim.
Pada laga pembuka Piala Dunia melawan Republik Demokratik Kongo yang berakhir imbang 1-1, Vitinha membuat 128 operan. Sebanyak 121 operan sukses tercatat sebagai rekor baru dalam kompetisi ini. Performa itu dia tunjukkan hanya dalam 83 menit bermain. Namun pada laga-laga berikutnya, permainan Portugal mulai monoton. Vitinha menjadi simbol kebuntuan tim.
Vitinha kesulitan menemukan celah di lini tengah Kroasia. Dia juga gagal membangun kombinasi dengan Bruno Fernandes. Gelandang PSG itu sering mundur terlalu jauh di antara dua bek tengah. Dia kehilangan kendali permainan pada babak kedua. Sebelum ditarik keluar, dia mencoba menusuk ke depan namun langsung dihentikan oleh pertahanan rapat Kroasia.
Jumlah sentuhan bola yang tinggi dari Vitinha justru menunjukkan rasa frustrasi, bukan dominasi permainan. Martinez menyatakan bahwa target tim di Piala Dunia adalah berkembang dan mempersiapkan seluruh pemain. Dia tidak ingin menyalahkan individu tertentu. Sang pelatih menegaskan bahwa tim harus segera berbenah.
Jadwal padat bersama PSG di Liga Champions turut memengaruhi kondisi fisik sang pemain. Para pemain Paris tidak memiliki waktu istirahat yang cukup sejak musim panas lalu. Mereka bergabung dengan Selecao kurang dari dua minggu sebelum laga melawan Republik Demokratik Kongo. Martinez sempat memuji Vitinha sebagai calon pemenang Ballon d'Or masa depan. Namun menit bermain sang gelandang terus menurun dalam tiga laga terakhir, dari 83, 70, hingga 62 menit. Laga berikutnya akan membuktikan posisi gelandang lulusan Porto tersebut dalam skema masa depan Portugal.